Ragamutama.com – Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional, sebuah momen penting untuk merefleksikan hak-hak pekerja. Tahun 2025, peringatan ini jatuh pada hari Kamis, 1 Mei.
Di Indonesia, Hari Buruh Internasional diakui sebagai hari libur nasional, menunjukkan komitmen negara terhadap kesejahteraan tenaga kerja.
Akar sejarah Hari Buruh atau yang dikenal juga sebagai May Day, erat kaitannya dengan tragedi Haymarket yang terjadi di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, antara tanggal 1 hingga 4 Mei 1886.
Seperti yang dilaporkan oleh Kompas.id (1/5/2024), para pekerja kala itu turun ke jalan untuk memperjuangkan perbaikan kondisi kerja, terutama pengurangan jam kerja yang dianggap tidak manusiawi. Sayangnya, aksi ini berujung bentrok dengan aparat kepolisian dan menimbulkan korban jiwa.
Sebagai wujud penghormatan atas perjuangan para pekerja, Hari Buruh Internasional secara resmi dideklarasikan dalam Kongres Sosialis Internasional II yang berlangsung di Paris pada tahun 1889. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi simbol solidaritas global di antara para pekerja.
Peringatan Hari Buruh di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang dinamis, mengalami perubahan signifikan seiring pergantian kepemimpinan negara.
Disambut Hangat oleh Soekarno
Berdasarkan catatan dari Kompas.com (1/5/2021), Presiden Soekarno menunjukkan dukungan penuh terhadap Hari Buruh. Kehadiran Bung Karno dalam setiap acara peringatan menjadi bukti nyata.
Soekarno menekankan pentingnya mempertahankan politieke toestand bagi kaum buruh. Ia menjelaskan bahwa politieke toestand adalah suasana politik yang memungkinkan gerakan buruh untuk bebas berserikat, berkumpul, menyampaikan kritik, dan mengemukakan pendapat.
Selain itu, Soekarno juga menyerukan machtsvorming, yaitu upaya membangun dan mengakumulasikan kekuatan.
Hal ini dapat dicapai melalui pengorganisasian aksi dan perlawanan buruh dalam serikat-serikat, penyelenggaraan kursus politik, penerbitan dan penyebaran publikasi, pendirian koperasi buruh, dan berbagai kegiatan lainnya.
Dihapuskan oleh Soeharto
Di era pemerintahan Soeharto, perayaan Hari Buruh ditiadakan karena dianggap terkait dengan ideologi komunisme yang pada masa itu sangat dilarang.
Seperti yang dilansir dari Harian Kompas (20/4/1968), Soeharto secara resmi menghapus Hari Buruh 1 Mei sebagai hari libur nasional pada tanggal 19 April 1968.
Soeharto beralasan bahwa peringatan tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan situasi saat itu.
Lebih lanjut, Hari Buruh 1 Mei dikaitkan dengan paham Marxisme atau Leninisme yang kegiatan-kegiatannya telah dilarang.
Secara politis-psikologis, Hari Buruh juga dinilai menguntungkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada saat itu diduga sedang berusaha untuk memulihkan kekuatannya.
Digantikan dengan 20 Februari
Pada tanggal 20 Februari 1973, pemerintah menggabungkan semua serikat buruh yang masih ada ke dalam satu wadah tunggal yang disebut Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI).
Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pekerja versi Orde Baru, menggantikan Hari Buruh 1 Mei.
Dikutip dari Harian Kompas (22/2/1977), Soeharto berharap agar para pekerja Indonesia dapat menemukan tempat yang tepat dan memainkan peran yang lebih signifikan dalam pembangunan nasional.
Ia menyadari bahwa perjalanan FBSI dalam membina dan mempersatukan pekerja Indonesia masih panjang pada saat itu.
Kemajuan Buruh di Era Habibie
Gerakan buruh mendapatkan kembali eksistensi dan kekuatan politiknya pada masa reformasi.
Pada tahun 1998, Presiden BJ Habibie mengesahkan konvensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengenai Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi bagi para pekerja.
Indonesia bahkan menjadi negara pertama di Asia yang meratifikasi semua konvensi dasar ILO, termasuk penghapusan kerja paksa, diskriminasi pekerjaan, dan usia minimum pekerja.
Sejak jatuhnya rezim Soeharto, Hari Buruh kembali dirayakan secara rutin setiap tahun di berbagai daerah.
Serikat-serikat buruh juga kembali bermunculan dan menunjukkan eksistensinya, seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Serikat Pekerja Nasional (SPN), dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).
SBY Mengembalikan 1 Mei Sebagai Hari Buruh
Pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013, menetapkan kembali tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh dan menjadikannya hari libur nasional.
Dilansir dari Kompas.com (30/4/2023), keputusan ini bermula dari pertemuan antara SBY dan Presiden KSPI, Said Iqbal, pada tahun 2013.
“Ada hadiah istimewa dari Presiden Yudhoyono, di mana pemerintah akan menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional,” kata Iqbal saat itu.
Keputusan menjadikan Hari Buruh sebagai hari libur nasional mulai berlaku pada tahun 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini.
(Sumber: Petrus Damianus Banar Laksono, Nur Fitriatur Shalihah, Yefta Christopherus Asia Sanjaya | Editor: Topan Yuniarto, Sari Hardiyanto, Rizal Setyo Nugroho)